Pendidik Yang Bijak

guru

Kepribadian merupakan faktor penting pendidik dalam menjalankan profesinya. Kepribadian pendidik, menurut Eysenck, ditentukan oleh keturunan dan lingkungan.

Kedua faktor itu akan tercermin dari perilaku yang tampak. Hal itu akan membentuk pola karakter dari seseorang. Dan, pola tersebut tentunya akan relatif menetap pada diri seseorang.

Salah satu bentuk kompetensi kepribadian yang penting dari pendidik adalah menjadi sosok yang bijak. Menjadi sosok yang memiliki kepribadian bijak dapat terlihat dari beberapa indikator penting dari seorang pendidik.

Pertama, pendidik yang mampu menampilkan perilaku berdasarkan asas manfaat bagi peserta didik, sekolah, dan masyarakat. Pendidik yang bijak akan mengutamakan kepentingan peserta didiknya sehingga mereka dapat menjadi sosok yang berhasil dan sukses di masa mendatang.

Untuk bersikap bijak, secara teoritis, hampir setiap orang atau pendidik mengetahuinya. Akan tetapi, tidak semua dapat melakukannya. Tindakan seorang pendidik yang bijak adalah bagaimana dia dapat menunjukkan perilaku yang memberikan manfaat untuk orang-orang yang ada disekitarnya, terutama anak-anak didiknya.

Kedua, pendidik mampu menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak. Pola pikir terbuka dan bertindak secara baik dari sosok pendidik menjadi satu keharusan. Hal ini agar pendidik dapat secara terus menerus bersedia mengembangkan dirinya.

Di sisi lain, agar pendidik juga bersedia menerima informasi yang dapat memberikan manfaat tidak hanya untuk dirinya, tetapi untuk lingkungannya. Terbuka dalam berfikir dan bertindak akan membantunya untuk menerima diri, baik itu kelebihan maupun kekurangannya.

Kelebihan yang dimiliki sosok pendidik dapat dijadikan satu cara untuk berbagi ilmu kepada orang lain, terutama peserta didik. Pendidik yang terbuka dalam berfikir tentu akan memaknai kelebihan dan potensi yang dimilikinya agar dapat ditiru oleh anak didiknya.

Ketika seorang pendidik menunjukkan kelebihan diri, bukan berarti dia bertindak sombong, tetapi lebih kepada bagaimana kelebihan itu menjadi model bagi anak-anak didik. Sebaliknya, kelemahan yang dimiliki bukan berarti sosok pendidik itu tidak mampu melakukan hal baik.

Dengan menyadari kelemahannya, itu membuat diri si pendidik mau lebih terbuka kepada hal-hal baru yang dapat dipelajarinya dengan baik, hal-hal baru yang menjadikannya mau untuk terus belajar dan berkembang.

Ketiga, pendidik yang bijak adalah pendidik yang mampu menjadikan anak-anak didiknya sosok yang juga bijak. Untuk mewujudkan harapan tersebut, pendidik harus dapat membina hubungan yang baik dengan memberikan contoh-contoh teladan dalam perilaku kesehariannya.

Perilaku anak-anak sesungguhnya merupakan cerminan perilaku orang dewasa seperti orangtua, pendidik, pengasuh dan lain-lain, yang seringkali berinteraksi dengan anak-anak. Untuk itu, jika ada anak-anak yang menunjukkan perilaku tidak diinginkan, perlu dicermati keberadaan orang-orang yang dekat dengan anak-anak.

Hal ini penting karena anak-anak akan belajar melalui pengamatan, pendengaran, dan perilaku yang tampak olehnya. Seorang pendidik, baik itu guru ataupun orangtua, harus menyadari bahwa semua yang ditunjukkan melalui sikap dan perilaku akan menjadi faktor kuat yang membentuk karakteristik seorang anak.

Seorang pendidik yang bijak adalah sosok profesional di mana dia tidak hanya memberikan pengetahuan ilmu yang dimiliki, tetapi juga akan membentuk karakteristik anak-anak didik dengan baik.

Profesional sebagai pendidik tentu tidak lepas dari keilmuan yang dimilikinya untuk dapat diterima secara baik dan tepat oleh anak-anak didiknya. Pemindahan atau transfer ilmu kepada anak didikpun perlu menggunakan cara yang bijak sesuai kaidah yang benar. Jadi, memberikan materi harus dapat menjadikan anak-anak didik memahami sang pendidik dengan benar dan dapat mengimplementasikan ilmunya dengan tepat guna.

Cara dan sikap dari pendidik secara tidak langsung akan membentuk karakteristik anak didik. Untuk menjadi pendidik yang bijak diperlukan pembinaan pendidik atau guru.

Hal ini seharusnya dimulai dari institusi atau lembaga yang mencetak para calon pendidik atau guru. Lembaga-lembaga atau institusi yang berkualitas, dalam hal ini Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), diharapkan mampu menciptakan sosok pendidik yang memiliki kesatuan dari empat kompetensi yang mumpuni, yang dituntut sebagai seorang pendidik.

Keempat, kompetensi pendidik atau guru, yang meliputi kepribadian, profesional, pedagogik, dan sosial, harus terbangun tidak hanya dari diri calon-calon pendidik itu, tetapi juga dibarengi oleh kualitas institusi pendidikan yang menghasilkan pendidik yang unggul dan berkualitas.

Pekerjaan rumah para petinggi negeri dan lembaga-lembaga pendidikan sangat menentukan kualitas pendidik seperti apa yang diinginkan untuk melahirkan anak-anak didik yang juga memiliki kualitas.

Untuk mempersiapkan pendidik yang memiliki kualitas, peran serta penyedia sumber daya manusia di institusi pendidikan itu haruslah juga memiliki kemampuan yang sesuai standar atau bahkan melebihi standar yang dituntut. Hal ini penting karena anak-anak didik yang dididik oleh SDM yang baik akan melahirkan generasi yang kuat dan memiliki integritas.

Pendidik yang bijak selayaknya dihasilkan dari tempat-tempat pendidikan atau lembaga-lembaga yang berkualitas. Saat ini, untuk menjadi pendidik, masih terbatas pada pilihan alternatif dari calon-calon pendidik.

Hal ini dikarenakan beragam alasan sehingga profesi sebagai pendidik masih belum dimaknai dengan baik. Padahal, untuk menjadi sosok pendidik yang bijak, mereka harus menjadikan profesi pendidik ini sebagai hal yang utama.

Di sisi lain, perlu juga melengkapi diri dengan standar-standar yang sesuai dengan ketentuan untuk mengukur kualitasnya. Tidak hanya secara keilmuan, tetapi juga dari kepribadian.

Sosok yang bijak pasti akan memberikan yang terbaik dan menjadi contoh teladan untuk anak didiknya. Oleh karena itu, pendidik perlu dengan kesukarelaan hati menghayati dan memaknai peran yang sesungguhnya.

Sosok pendidik yang bijak haruslah dengan ikhlas mendidik, mengajar, membimbing, melatih, dan mengarahkan anak-anak didiknya agar dapat meraih cita-cita dan menuju ke masa depan yang lebih baik.

Oleh:

FATCHIAH E. KERTAMUDA, Dosen Psikologi Universitas Paramadina Jakarta, senior fellow Paramadina Public Policy Institute

artikel ini telah diterbitkan di Bisnis Indonesia



Leave a Reply